back to top?


irasshai!
Welcome

Welcome! (Disclaimer here)
Dibawah Senyuman Hujan
✿ Sabtu, Agustus 06, 2011

Waahh...ternyata aku terlalu asyik mengerjakan beberapa kerjaan kantorku, sampai-sampai aku tidak sadar kalau diluar sana telah turun hujan deras. Ups!! spontan aku melongo kearah luar , ku hentikan jari-jariku yang dari tadi sibuk memencet-mencet tombol komputerku. Dan mulailah kedua tanganku menopang daguku. Ku lihatin air hujan yang terus menerus turun dari langit itu...dan ku resapi setiap detakan suara yang keluar dari hujan itu. Subhanallah.... suara hujan itu menenangkan fikiranku. Dan masih dalam tatapan kagumku.... aku tersenyum tersipu malu, tiba -tiba saja hatiku berujar...aahhh....hujan itu telah mengingatkanku tentang perjalanan kasih aku dan dia. Waktu itu.... tepatnya hari weekend, kami berdua menyempatkan diri untuk berjalan-jalan walau hanya sekedar reflesing alias cuci mata. Tanpa terasa waktu terus berlalu dan mengharuskan kami untuk segera pulang. Taaapiii.... setibanya kami didepan pintu keluar, eehh...ternyata diluar hujan deras. Kami pun saling berpandangan seolah-olah mata kami saling memberikan isyarat,"o..o..hujan...kayak mana kita mau pulang yach..??". Dengan sabar kami pun menunggu hujan itu reda sambil bercerita hal-hal yang lucu. Akhirnya hujan pun reda juga, dan kami segera beranjak dari tempat itu dan kembali pulang. Selang beberapa hari kemudian setiap kali kami jalan berdua..selalu saja hujan turun, bahkan saat kami berada tepat ditengah jalan yang kami lalui. Mau tidak mau akhirnya kami pun kebasahan. Ternyata aku maupun dia, kami sama-sama menyimpan pertanyaan yang sama pula, "kenapa yach...setiap kita jalan berdua... pasti selalu saja turun hujan". Sampailah pada suatu hari, dimana dia akan melaksanakan sidang skripsinya, dia memintaku datang untuk melihat dan memberi semangat padanya. Waktu itu hari begitu terik, seakan-akan matahari tepat berada diatas kepalaku. Dengan langkah cepat aku pergi kekampusnya berharap aku tidak ketinggalan melihatnya mepresentasikan skripsinya. Sampailah aku disana, dengan tersenyum kecil aku menoleh kearahnya berisyarat...."ayo cynk..semangat...kamu pasti bisa". Tak terasa hari semakin sore, namun kegiatan itu belum juga berakhir bahkan akan disambung lagi setelah magrib. Entah kenapa... mataku ingin menatap langit sore itu. Waaahh...ternyata langit sudah mendung, hhhmm...sepertinya akan turun hujan lagi, fikirku". Bergegas ku menghampirinya dan berkata, "masih lama lagi yach cynk???sepertinya bakalan hujan lagi hari ini, dan bisa-bisa kita kehujanan lagi pulangnya". Dia justru membalas dengan senyuman genit, dan malah menggoda ku dengan kata-kat, "tenang cyg..kan ada payung cinta kita, hhmm..tapi suka kan kalau hujan-hujan..biar bisa sekalian mandi hujan, iya kan???". Spontan saja wajahku memerah kayak tomat. Magrib pun selesai dan kegiatan dilanjutkan kembali. Satu persatu pesertanya maju dan akhirnya selesai juga. Taaapii...tiba-tiba terdengar suara gemuruh, tak lama kemudian suara hujan menyusul. Semua orang yang ada disana pada mengomel-ngomel sendiri karena hujan turun disaat semuanya hendak pulang kerumah masing-masing. Tuh kan...beneran turun lagi hujannya, gumamku. Yaahh...sekali lagi mau tak mau kami pun menunggu hujan itu reda. Satu jam, dua jam, dan tiga jam berlalu, hujan itu belum juga reda, sementara malam semakin larut. Akhirnya kami sepakat untuk tetap pulang dengan menerobos hujan itu. kami berlari meninggalkan kampus itu menuju persimpangan untuk menunggu angkot yang akan kami naiki (maklum..saat itu kami belum punya kereta...hihihi).
Baju kami basah, badanku mulai menggigil, dan dingin semakin mencekam. Lama kami menunggu, belum juga ada angkot yang lewat. Hujan pun semakin deras, kami berdiri merapat, dengan jaket yang basah dia tetap memberi alas kepalaku, dan dia merangkulku hangat. Saat itu yang bisa kami lakukan hanya senyum-senyum, tertawa-tawa, dan sesekali saling mengejek. Sesaat kami terdiam dibawah senyuman hujan, menghitung berapa kali kami sering kehujanan. Tiba-tiba saja dia tertawa kecil, samar-samar ku dengar dia berucap "UTJAN". Aku memandanginya lalu bertanya apa artinya. Kemudian dia menjelaskan, UTJAN itu adalah HUJAN. Karena kita berdua sering kehujanan, jadi nama itu saya hadiahkan untuk cyg. Berharap saat memanggil nama itu, semua kenangan harini tidak pernah terlupakan, saat kita berdiri kedinginan dibawah senyuman hujan serta terciptanya nama UTJAN. Angkot yang kami tunggu pun akhirnya datang, dan kami segera pulang.

Senja di Sore Itu
Hujan pagi itu masi mengguyur Balik Papan.Membuat manusia enggan beraktifitas pagi itu.Jalanan yang tadinya di hiasi dengan padatnya mobil-mobil yang berkeliaran,kini hanya di genangi oleh air yang semakin lama semakin meninggi.Rara dari tadi hanya duduk di dekat jendela sambil mengawasi air yang mengalir deras di dalam got.Tak di duga kalau pagi ini hujan akan sederas ini.Padahal jam 10.00 nanti dia harus sudah berada di kampus untuk kuliah dengan Pak Zendra SH.Dosen yang paling di takuti oleh seluruh teman-temannya.Sebenarnya mereka bukan takut,tapi mereka benci dengan Pak Zen.Karena system kuliah Dosen yang satu ini adalah mengejar target.Tidak peduli,yang di ajar mengerti atau tidak.Rara akhirnya beranjak dari tempat duduknya saat di lihatnya jarum jam sudah menunjukkan pukul 08.30.Ia haru segera mandi.Karena pasti sebentar lagi, Mama akan menyemburnya dengan omelan kalau dia tidak kuliah. Rara melangkahkan kakinya untuk memasuki ruangan yang menjadi istananya juga teman-temannya saat kuliah.Namun yang membuatnya dongkol,dosen yang paling di benci ini sudah duduk duluan dimuka kelas sambil menunggu mahasiswa yang belum datang.Dan sialnya Rara yang datang lebih awal.Jadi mau tidak mau dialah yang menerima mata kuliah lebih dahulu dengan Pak Zendra SH.”TNI AD(Terima Nasib Ini Apa Adanya).”Katanya dalam hati.
“Kalian kemana sih?Kok nggak ada masuk?”Gerutu Rara saat melihat sovi juga teman-temannya tidak muncul di kelas.
“Bangun kesiangan bhebs…..Jadi aku nggak masuk kuliah dengan Pak Zen.”Sovi menjawab sambil menghirup kuah sotonya.
“Tapikan kalian bisa ngasih tau aku kan kalau kalian nggak masuk….Masa di kelas Cuma aku sama Pranata sih….kan nggak lucu…..”
“Hahaha…….Jadiii……kalian mau jadi anak yang berbakti sama Negara ya….rajin banget kekampus…..Tapi nggak pa-pa lah…ntr kalau kalian sukses aku nebeng aja….”
Sovi meneruskan makannya tanpa mempedulikan Rara yang masih geram dengan nya.Kalau saja dia bukan teman dekatnya.Pasti jitakan sudah mendarat di kepalanya yang manyun itu.Akhirnya Rra pun tergiur untuk memesan soto panas.Tadi dia belum sempat sarapan di rumah.Lagi pula hujan-hujan Mama malah masak nasi goreng.Kan nggak lucu….Yang ada juga ngantuk aja bawaannya.Walaupun sebenarnya hujan-hujan begini tarik selimut peluk guling malah lebih enak.******
Hari ini lain dari biasanya.Matahari mulai tersenyum menghiasi bumi.Burung-burung pun mulai menari-nari diatas dahan-dahan yang rindang.Rra tersenyum melihat semua itu.Di bukanya jendela kamarnya agar udara yang pengap berganti dengan udara segar.Hari ini Rra masuk sore.Dan pagi ini sudah di rancangnya sebuah rencana untuk menemui Alvin,kekasihnya untuk sekedar membawakan makan siang.Alvin seorang Intel di POLRESTA Balik Papan.Kemungkinan Alvin hari ini makan di kantin depan kantornya.Sekali-kali Rara ingin membawakan makanan buatannya sendiri untuk Kekasihnya.
“Emang kamu mau bawain apa sih,Ra,buat Alvin?”Mama mengoreksi semua lunch box yang di isi oleh makanan .
“Ikan pindang,Ma…Kesukaan Alvin.Dia kan belum pernah makan siang dengan masakan Rara.Nggak pa-pa kan sekali-kali Rra bawain dia makanan?”Rara menjawab sambil memakai sepatu.
“Ya udah.Kamu hati-hati.Jangan lupa STNK motor di bawa.Jangan mentang-mentang Alvin Polisi,kamu seenaknya aja.”
“Ya enggak lah,Ma……Ya udah Rara pergi dulu,ya……”Rara mencuim tangan Mamanya.
“Hati-hati,ya…..”
Rara melangkahkan kakinya menuju POLRESTA untuk menemui Alvin.langkahnya begitu semangat.Seolah tahu kalau sesorang sedang menunggunya di sana.Dan saat Rara tiba di tempat itu,Alvin lebih dulu menghampiri Rara.Dengan tersenyum Alvin menyambut kedatangan Rara.Di kecupnya dahi Rara saat sampai di depannya.
“Apa kabar, Bu?”Alvin memanggil Rara dengan panggilan sayangnya.
“Baik.Bebe apa kabar?”Bebe panggilan sayang dari Rara untuk Alvin.
“Sepertih yang Bubu lihat sekarang.”Mata Alvin tertuju pada bungkusan yang di bawa oleh Rara.”Bawa makan siang buat Bebe?”
“Iya,nih....Bubu bawain Ikan pindang kesukaan Bebe.Belum makan kan?”
“Ya belum lah....Kan Bebe udah pesan makan siangnya sama Bubu....Gimana sih......”
Rara tersenyum mendengar perkataan Alvin.”Bisa aja,Bebe....Tapi.....Bubu nggak bisa nemenin Bebe makan siang di sini.”
“Kenapa?”Ada perasaan kecewa di hati Alvin.
“Bubu harus ke kampus.Katanya di suruh jadi anak pinter.....Nggak pa-pa ya...Bubu nggak temenin Bebe makan siang....”
“Hmmmmmmm..........Iya deh......Tapi.....ntar sore boleh kan,makan malem bareng di rumah Bubu????”
“Boleh...Tadi Mama emang pesan kok...Hampir aja Bubu lupa....”
“Yeeee gimana sih....umur baru 20 udah pelupa....Yaudah,brangkat deh....ntar telat lagi...”
“Ya deh...Bubu pergi dulu ya....Da Bebe...”‘
“Da Bubu....”
Rara melangkah meninggalkan kantor Alvin.Di lambai kan tangannya sebagai tanda kalau Rara masih ingin di situ.Hubungan Alvin yang di jalani dengan Rara sudah berumur 1 tahun.Rara pun makin yakin kalau Alvin lah yang mampu membimbing Rara dalam segala hal.Rara pun bertekad ingin segera menyelesaikan studinya yang tinggal dua tahun lagi di jurusan Komputer.Dan tampaknya Mama dan Papa pun setuju dengan pilihan Rara.Hanya yang Rara belum tahu,apakah orang tua Alvin juga setuju?Yang pasti Rara ingin mereka juga setuju.
Awalnya memang lucu.Alvin selama ini selalu ilfell dengan Rara yang bertingkah sepertih lelaki.Gayanya yang selalu berkesan dancer R&B membuat Alvin senang meledeknya pejantan.Tapi memeang itu kegiatan Rara.Dan itulah yang membuat Rara jadi sangat benci pada Alvin.Rara memang hobby dengan Dancer.Dan kebanyakan laki-laki suka dengan gadis yang feminim.Bukan berkesan tomboy sepertih Rara.Tapi toh akhirnya Alvin malah jatuh cinta pada Rara.Mungkin karena sering memperhatikan Rara yang selalu berkesan menantang laki-laki denagn gaya tomboynya.*****
Hari ini tak sepertih biasanya.Panas terik memanggang seluruh manusia yang ada dibumi ini.Membuat Rara enggan untuk melangkah kemana-mana.Tapi ia harus segera berangkat,karena anak-anak didiknya pasti menunggu di sanggar dancer.Sebagai guru les Dancer Rara tak biasanya terlambat.Ia tak mau anak didiknya Ilfeel padanya.Alvin sepertihnya tidak mau di ganggu dengan istirahat siangnya.Entah mengapa beberapa hari belakangan ini Alvin sulit di hubungi,selalu bilang sibuk saat di tanya.Dan siang itu akhirnya Rara pun pergi sendirian untuk menuju sanggar dancer.Walaupun sebenarnya ia sangat jengkel dengan sifat Alvin belakangan ini.Panas trerik di siang hari semakin memacu kejengkelan Rara terhadap Alvin.Tapi,mungkin juga Alvin kecape an dengan pekerjaannya.Jadi Rara harus bisa memaklumi keadaan itu. “Kok sendirian?”Tanya Sovi saat melihat Rara datang sendirian.
“Alvin nggak bisa nganterin.Dia sibuk mungkin.”Jawab Rara menahan kesal manakala di ingatkan dengan Alvin yang mulai jarang mengangkat telvonnya belakangan ini.
“Kenapa..... kalian berantem?”
“Jelas dong,kalau kayak gitu caranya.Siapa yang mau di cuekin coba?Kamu juga pasti nggak mau,kan?”
“Sabar,Ra...Dia kan juga butuh istirahat.Kamu jangan mau menag sendiri,dong....”
“Ya,udah....Kok kamu jagi marah sama aku sih,Sov.....”Rara mulai kesal dan langsung mengambil alih untuk memimpin anak-anak.
Sovi hanya mengangkat bahu melihat sifat temannya.Yang psti ia merasa ada yang tidak beresdi balik hubungan Rara temannya dengan Alvin,Intel di POLRESTA itu.Tapi Sovi tidak mau mengatakkan hal itu pada Rara saat ini,Karena sebagai teman Sovi Tidak mau Rara salah paham dengan semua ini.Tapi Sovi juga harus mencari tahu tentang Alvin,juga kebiasaannya saat di kantor.Salah satu caranya dengan mengorek semuannya lewat tukang kebun yang tinggal di tempat itu.
Ternyata benar yang di katakan Rara.Alvin sangat berubah.Dia tak sepertih Alvin yang dulu.Dia cenderung sendiri dan tidak mau di ganggu.Bertemu Sovi pun tak mau menyapa.Seolah tidak pernah kenal.Tapi sedikit pun,Rara tidak pernah menaruh rasa curiga atau prasangka buruk terhadap Alvin.Itun kah yang namanya Cinta Dan Kepercayaan?????
Semakin tak tahan melihat sikap dingin antara Alvin dan Rara,kaki Sovi pun tergerak untuk menghampiri Tukang kebun yang tinggal tak jauh dari kantor itu.
“Bapak pasti tau kan tentang mereka yang ada di sini?”Tanya Sovi sambil menyodorkan sebungkus rokok ke pada tukang kebun itu.
“Ya…kurang lebih begitu lah Non…..Emangnya Non mau Tanya tetang siapa sih?”Pak Dayat duduk di atas tikar yang terbuat dari pandan di pondoknya.
“Saya mau Tanya tentang Alvin ,Pak.Apa Bapak tau bagaimana dia saat di sini? “Non pacarnya Pak Alvin?”
“Bukan.Saya punya teman.Dan teman saya itu pacarnya.”
“Setahu Bapak,Non….Kemarin Bapak Kapolresta,Pak Hadi Mau memindah tugaskan Pak Alvin ke Bandung Non…..Kenapa juga Bapak nggak tahu persis.Yang jelas kemarin Bapak sempat mendengar ancaman kalau Pak Alvin tidak mau,Pak Hadi akan menonaktifkan jabatannya sebagai Polisi.”
“Pasti ada yang nggak beres,Pak….”
“Wah…kalau masalah yang itu Bapak nggak tahu Non….Wong Bapak Cuma tukang kebun.Memangnya sudah berapa lama teman Non pacaran dengan Pak Alvin?”
“Sudah Satu tahun,Pak…..Mmmmm,Kalau begitu terimakasih,ya Pak….Saya permisi dulu.”
“Iya,Non….Sama-sama.”*****
Setelah mendengar cerita dari Sovi tentang Alvin kekasihnya,siang itu Rara memaksa Alvin untuk bertemu di caffe tempat biasa mereka bertemu.Sebenarnya Alvin enggan unutuk bertemu dengan Rara,di karenakan Pak Hadi yang memberinya tugas untuk menemaninya menghadiri pesta pernikahan sahabatnya yang menjadi Kapolsek di Bandung jam tiga nanti.Namun sepertihnya Rara tidak menghirau kan alasan itu,Ia tetap ingin bertemu,dan mengancam akan datang ke kantor dan membawanya pergi.Dan anehnya Alvin takut dengan ancaman Rara.Ini di luar sifat Alvin.
“Kenapa sih,maksa banget?”Katanya saat sampai.
“Bebe tu makin aneh tau,nggak?Kenapa belakangan ini Bebe jarang mau angkat tellphone dari Bubu?Dan kenapa Bebe nggak bilang kalau mau di pindah tugas?”
Alvin tersentak mendengar perkataan yang terakhir dari bibir Rara.
“Dari mana Bubu tau kalau Bebe mau di pindah tugas?”
“Jangan Bebe pikir selama ini Bubu nggak tau ada apa di balik ke diaman Bebe.Bubu nggak nyangka kalu Bebe selama ini bermasalah dengan jabatan Bebe.”
“Mulai sekarang…..Jangan panggil aku dengan panggilan sayang itu lagi.Aku nggak pantes dapetin panggilan sayang itu juga cinta kamu,Ra.”Alvin berdiri menghadap pantai yang tak jauh dari caffe itu.”Cinta kamu terlalu tulus buat aku,Ra.Sedangkan aku nggak bisa membalas ketulusan cinta kamu.”
“Maksud kamu????Kamu mau ninggalin aku,Vin????”
“Aku akan ceritakan yang sebenarnya,dan mungkin ini terlalu sakit untuk di dengar.Tapi aku harus menceritakkannya,Ra.Dan sumpah demi Tuhan,ini bukan kemauanku.Ini kemauan orangtuaku,juga demi masa depanku.”
“Orangtua kamu,masa depan kamu.....Aku nggak ngerti,Vin.”
“Sebelum aku cerita,aku harap kamu sudah siap untuk mendengarnya.”
“Aku udah siap!”Jawab Rara seakan sudah tau apa yang akan di katakan. nya.“Aku akan di pindah tugaskan karena aku akan di nikahkan dengan putri tunggal Kapolres Ku.Pak Hadi.”
Rara tebelalak mendenganr semua itu.Ia merasa ada petir di tengah terik matahari siang.Air matanya yang telah siap mengalir,di bendungnya rapat-rapat di sela-sela bola matanya.”Lalu apa hubungannya dengan kedua orang tua Mu?”Tanya Rara setelah sedikit tenang.
“Mereka sudah berteman lama.Dan aku ternyata sudah di jodohkan dari dulu dengan Dona.Putri tunggal Pak Hadi.”
“Dan kamu menerimanya?Lalu kenapa nggak dari dulu kamu mengatakan hal itu kepadaku,Vin?”Kini Rara bukan lagi memanggil nya dengan panggilan sayang itu.
“Aku baru tahu sekarang.Dan aku juga nggak amu kehilangan masa depanku yang selama ini dengan susah payah Ku cari,Ra.Aku juga nggak mau durhaka terhadap orang tua Ku.Bagi Ku,siapa pun yang jadi pendamping hidup Ku,adalah pemberian dari Tuhan.Aku hanya berusaha untuk mendapatkannya.Dan aku harap,kamu pun berfikiran sepertih itu.Maafin aku,Ra.Aku harus lakukan ini dan tinggalin kamu.Tapi asal kamu tahu,dari awal aku mengenal kamu,aku bisa merasakan betapa berharganya hidup di dunia ini.Aku masih cinta sama kamu.”
Rara hanya terdiam terpaku mendengar perkataan itu.Ia masih tegak berdiri di depan Alvin yang sudah siap meninggalkannya.Air mata yang ada menggenang di bola matanya kini telah tumpah mengalir jatuh membasahi pipinya.Sebenarnya air mata itu tak ingin di jatuhkannya,tapi Rara tak sanggup lagi membendung air mata itu.Ketegarannya telah di runtuhkan oleh Alvin saat mendengar Alvin akan di nikahkan dengan Putri atasannya.Rara bisa menghargai itu.Ia juga tahu betapa Alvin menjadi kebanggan keluarga jika ia bisa menuruti keinginan keluarganya.Tapi hati Rara belum rela untuk itu.
“Apa pun yang kamu tempuh,aku yakin sudah takdir yang di gariskan Tuhan.”Kata Rara sambil menghapus air matanya.Kini ia berdiri di dekat Alvin dan berhadapan.Ia mencoba untuk tegar.”Aku terima semua ini.Karena aku tahu,kalau kamu adalah kebanggan keluarga kamu.Aku akan lebih di sayang,kalau kamu mau menuruti kemauan mereka.Termasuk menikah dengan Dona.Putri Pak Hadi.Mungkin belum waktunya aku mendapatkan cinta yang bisa menerima aku apa adanya.Dan kalau kamu ingin tahu,hati ini sudah terlalu tegar untuk kamu tinggal dalam waktu yang begitu cepat.Kamu memang nggak menyakiti aku dengan cara selingkuh.Tapi aku,menganggap ini kutukan karena aku telah salah mencintai seseorang.”
Rara langsung meninggalkan Alvin yang masih berdiri di hadapannya.Matahari senja menjadi saksi bahwa Alvin bukan milik Rara lagi untuk selamanya.Ia melangkah sambil menahan air mata yang siap tumpah.Entah apa yang ada dalam benak Rara saat ini orang lain tak bisa menebak.Ia ingin menangis,tapi ia juga harus tetap tersenyum saat bertemu orang lain.Seolah tak terjadi apa-apa terhadap Rara. *****
“Jadi ini yang membuat dia lebih cenderung pendiam sekarang ini.”Gumam Rara menyadari sifat Alvin Yang lebih berbeda dari sebelumnya.Nafasnya terasa sesak.Rasa-rasanya ia tak sanggup lagi hidup dalam kesakitan sepertih ini.
“Rara....Sovi datang.”Suara Mama membuyarkan lamunannya.Buru-buru di hapusnya air mata yang berlinang di pipinya.
“Suruh masuk aja,Ma.....”Rara tetap tidak mau membuka pintu kamarnya.
“Maafin aku,Ra.....’Kata Sovi yang menyadari keadaan temannya.”Aku harus cerita semuanya tentang Alvin ke kamu.Aku nggak mau kamu terus-terusan nggak tahu apa yang terjadi sama dia.”“Nggak pa-pa,Sov.....Aku justru makasih banget sama kamu.Aku mungkin nggak kan tahu sama sekali kalau kamu nggak berusaha buat cari tahu tentang Alvin.”
“Sabar,ya.....Aku tahu perasaan kamu.....Kapan Alvin pergi ke Bandung?”
“Dua minggu lagi.Dia mau aku juga mengantarkan ke pergiannya untukak sang yang terakhir kalinya.Aku nggak sanggup,Sov....Tapi aku masih ingin melihatnya.......”Rara menangis sambil memeluk Sovi.
“Ra.....Kamu perempuan tegar.....Kamu nggak bisa nangis Cuma gara-gara Alvin.”
“Mama juga bilang begitu.....Tapi kenyataanya......Aku rapuh,Sov.....Aku nggak mau munafik....Aku masih cinta sama dia.....”
Sovi semakin sedih mendengar penuturan sahabatnya.Selama ini yang Sovi tahu,Rara tidak mau ambil pusing kalau urusan bercinta.Tapi kali ini,sungguh lain dari kenyataan sebelumnya.dulu Sovilah yang selalu menangis saat di tinggalkan Doni kekasihnya.Namun itu bukan karena Doni akan di nikahkan dengan gadis lain.Tapi karena Sovi yang selalu selingkuh.****
Sore itu,matahari sedang indah-indahnya bersinar untuk kembali ke peraduan.Air pantai yang biru menjadi lebih indah saat matahari menerpanya.Cahaya perak itu memancar kemana-mana.Sungguh hari yang indah.Hanya sayang.Keindahan itu harus mengantarkan Kepergian Alvin menuju Bandung.Dan menetap di sana,dan meninggalkan Rara untuk selamanya.Rara masih menangis sambil duduk di tepian Pantai yang tak jauh dari Bandara.Ia tak sanggup untuk melepaskan Alvin yang sudah membawa separuh cintanya.
“Aku mau hari ini kamu jangan menangis,Ra.Tetaplah tersenyum Untuk,Ku.”Suara Alvin menghentikan tangis Rara.Rara pun menoleh ke arah Alvin yang menghampirinya.Ingin rasanya ia menghambur untuk memeluknya.Tapi niat itu di urungkan saat di ingatnya Alvin bukan miliknya lagi.Ia hanya berdiri saat Alvin menghampirinya.
“Kenapa kamu masih di sini?Jam berapa pesawat kamu berangkat?”Rara masih mencoba untuk berpaling.
“Jam 5 nanti.Dan untuk hari ini aku mohon,Ra....Buang ke angkuhan kamu.Aku tahu,Ra..kamu masih sayang sama aku.Jangan bohongi hati kamu,Ra....”
“Aku memang masih sayang sama kamu,Vin....Tapi bukan berarti dengan seenaknya kamu bisa meminta Aku untuk mengatakan itu,sementara kamu bukan milik Ku lagi.....Kamu lakukan ini untuk masa depan kamu,Orangtua kamu.Tapi kamu masih meminta aku untuk tetap mencintai kamu yang jelas-jelas akan meninggalkan aku.Di mana perasaan kamu,Vin?Di mana?!!!”
Kali ini Rara benar-benar menumpahkan semua yang mengganjal di hatinya.Ia ingin Alvin tahu betapa sakitnya hati Rara saat mendengar berita yang tak pernah di duga itu.Rara tidak punya pilihan lain lagi.Karena Alvin Sendiri memilih untuk mengikuti kata hati orang tua juga Nuraninya.
“Tapi untuk kali ini,Ra.....Izin kan aku memeluk kamu,mencium dahi kamu,dan mengucapkan kalimat sayang Ku sama kamu.Untuk yang terakhir kalinya.Dan menyakinkan kamu,kalau akan ada yang lebih baik dari aku yang akan mencintai kamu.”
Alvin merengkuh Rara ke dalam pelukkannya.Rara pun tak mampu berkata-kata lagi.Dalam hatinya masih menginginkan Alvin untuk tetp bersamanya.Hanya keadaan itu tak mungkin akan terjadi.
“Aku sayang sama kamu,Ra.Aku masih cinta sama kamu.”Kali ini tangis Rara makin menjadi.Saat Alvin mendaratkan kecupan di dahinya.Dulu Alvin sering memperlakukan Rara sepertih itu.Dan kini,itu menjadi yang terakhir kalinya Alvin mencium dahinya.”Aku pergi.”Alvin perlahan-lahan melepas pelukkannya.Dan beranjak menuju pesawatnya. Matahari yang siap kembali keperaduannya mengantarkkan langkah Alvin yang akan berangkat menuju Bandung.Semakin samar dan lama-lama menghilang.Pesawat yang di tumpangi Alvin kini telah meluncur meninggalkan Balik Papan.Rara hanya bisa menangis kembali untuk melepaskan kepergian Alvin dari hidupnya.
“Matahari sore tidak mau melihat tangis seorang Gadis.Karena hari ini adalah senyumnya untuk Esok Hari.”
Rara menoleh ke arah suara itu.Seorang laki-laki sedang berdiri menghadap Kearah pantai.Tapi sayang.Ia buru-buru pergi sebelum Rara mendekatinya.











Untukmu Selamanya
Jiya panic melihat jam tangannya sudah menunjukan pukul 07.10, ia sudah terlambat pergi ke sekolah. Setelah mengambil sepotong roti dari meja, ia langsung pamit dan menarik kakaknya yang sedang sarapan untuk segera mengantarnya. Untunglah Jiya sampai tepat waktu,
“ Uh…slamet-slamet, 2 menit lagi gak nyampe, bisa mati nich…!!” celotehnya. Dan baru saja Jiya akan melangkahkan kakinya ke gerbang sekolah, Jiya dikagetkan oleh bunyi klakson dibelakangnya yang membuat Jiya menghentikan langkahnya.
“ Heh, loe tuch ngagetin aja yach…!!!” ujar jiya dengan wajah kesal.
“ Sorry, loe minggir dikit downk, gue bawa motor nich.” Jawab anak yg mengendarai motor itu
“ Heh, nenek-nenek rabun juga tahu, yang loe naikin itu motor, bukan sapi!!” Omel Jiya
“ ya makanya loe minggir, biar motor gue bisa masuk.”
“ enak aja, yang duluan nyampe kan gue, kenapa loe yang masuk duluan???” Jiya tidak mau mengalah, tadi ia buru-buru dari rumah sampe gak sarapan karena takut telat, sekarang malah ada orang yang seenaknya mau mendahuluinya, Jiya tidak bisa membiarkan hal itu. Adu mulut antara mereka pun terjadi, mereka sama-sama tidak mau kalah, baru setelah mendengar bunyi bel mereka bisa diam dan bergegas masuk sekolah.
Bel pulang berbunyi, dan semua anak berhamburan keluar dari kelasnya. Jiya melangkahkan kakinya menuju gerbang dengan riang gembira, karena didepan gerbang sana pasti kakaknya sudah menunggu seperti biasanya. Tapi…“ lho..koq gak ada…???” Jiya heran ketika tidak menemukan kakaknya disekeliling tempat dimana kakaknya biasa menunggu. Padahal kak Ardy gak pernah telat menjemputnya, kak Ardy selalu sampai setengah jam sebelum sekolah bubar. Ini tidak biasanya, Jiya mencoba menunggu kakaknya dan berfikir positif, mungkun macet, atau motor kak ardi mogok, atau kak Ardy disuruh dulu sama mama, fikirnya. Tapi setelah satu jam menunggu dan kakaknya tak kunjung datang Jiya mulai panic. Tiba-tiba handphonenya bunyi, Jiya lega karena itu telp dari Kak Ardy
“ halo kak, kakak dimana, Jiya udah pegel dich nungguin kakak..”
“ Jiya, maafin kakak yach, hari nie jiya pulang sendiri aja, kakak gak bisa jemput soalnya di kampus ada ujian dadakan. “ ujar kak ardy di ujung telp
“tapi kak,,,”
“ tut..tut..tut..” kak ardy memetikan telp sebelum jiya sempat menolak atau mengiyakan. Jiya bingung, Jiya takut nyasar karena selama ini ia tidak pernah pulang sendiri. Saat itu, ada motor yang tiba-tiba berhenti didepannya. Rupanya itu anak yang tadi pagi bertengkar dengannya didepan gerbang.
“ mau pulang bareng…??” ajak anak itu, Jiya tidak menjawab dan pura-pura tidak mendengar,
“ ya udah kalo gak mau, gue duluan yach, tapi jangan salahiun gue kalau nanti loe digangguin sama preman sini karena diem disini sendirian.” Ujar anak itu smabil menghidupkan kembali motornya. Mendengar ucapan anak itu, ?Jiya jadi makin takut dan akhirnya mau diantar pulang. Selama pejalanan, Jiya diam seribu bahasa, begitu pula anak itu. Jiya takutt anak itu brniat jahat dan menculiknya. Pemikiran yang sangat tidak masuk akal, karena ternyata anak itu mengantarnya pulang dengan selamat sampai rumah, tapi anak itu langsung pergi sebelum Jiya sempat mengucapkan terimakasih.
***




Dikamar yang bernuansa ungu nan adem diterpa angin dari jendela itu, Jiya terus memikirkan cwo yg baru saja mengantarnya. Dia misterius, Jiya jadi penasaran dibuatnya.
“ Ran , gue masih bingung sama cwo yang nganterin gue kemarin. Gue belum bilang makasih, dia udah pergi aja. “ Tutur Jiya keesokan harinya pada sahabatnya disekolah
“ itu tandanya dia gak pamrih Ji..” jawab Rani
“ iya, tapi gue ngerasa gak enak aja, kemarin udah mikir yang macem-macem tentang dia, gue kira dia mau nyulik gue”
“ itu mah loenya aja yang gila, parno sampe segitunya. Lagian buat apa juga dia nyulik loe, gak penting kali. Udah gak usah dipikirin, nanti juga ketemu lagi, satu sekolahan ini kan..mending ke kantin yuk, laper nich…”
Tanpa diduga, di kantin Jiya melihat cwo yang kemarin mengantarnya, Jiya pun menghampirinya.
“ hai…loe yang kemarin kan..??” sapa Jiya
“ eh, iya..”
“ makasih yach buat kemarin…emz…”
“ Adhie…” jawab cwo itu sambil mengulurkan tangannya yang kemudian disambut hangat oleh Jiya
“ Yach adhie, thank ea, jangan lupa, nama gue Jiya.”
“ ok, duluan yach…” adhie pamit karena teman-temannya yang mulai menggodanya. Jiya melambaikan tangannya sambil tersenyum sampai Adhie tak terlihat lagi. Ada sesuatu yang lain dalam hatinya saat melihat matanya.
“ Ji, loe kenal sama dia??” Ujar Rani yang dari tadi memperhatikannya
“ siapa?? Adhie…??” Tanya Jiya, Rani mengangguk mengiyakan
“ dia cwo yang kemarin itu” jelas Jiya. Rani langsung menceramahinya ketika mendengar hal itu, Rani membeberkan tentang siapa Adhie sebenarnya. Adhie itu udah langganan dipanggil sama giru bp karena kelakuannyaa yang minus setengah mati dan gak ada baiknya sama sekali.
“ masa sich,,tapi dia manis kok..” Jiya tidak percaya
“ serah dech loe bilang apa, tapi loe jangan sampe deket-deket sama dia lagi, atau imej loe sebagai anak teladan n pinter bakal rusak gara-gara dia” papar Rani. Jiya tidak terlalu peduli dengan apa yang dikatakan Rani, toh belum tentu juga dia bakal kenal lebih jauh sama Adhie, meski sebenernya Jiya mengharapkan hal itu.
Ternyata takdir berpihak padanya, Jiya semakin sering bertemu dengan Adhie dalam berbagai kesempatan. Mereka jadi dekat karena sering bertemu. Sementara Adhie sendiri memang sudah menyukai Jiya jauh sebelum mereka saling mengenal. Adhie hanya bisa mengaguminya dari jauh karena tidak mungkin Jiya dengan segudang prestasinya mau berteman dengan seorang badboy seperti dirinya. Tapi semua pikiran itu hilang seiring semakin dekatnya hubungan mereka. Jiya tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain tentang adhie, karena dimatanya Adhie tidak seburuk yang mereka katakan, meski selalu terlibat masalah. Adhie itu punya hati yang tulus dan paling care sama temen-temennya, buktinya waktu itu dia mau mengantarnya pulang meski mereka tidak saling mengenal. Seiring berlalunya waktu, mereka menyadari bahwa ada perasaan lain yang sama-sama mereka rasakan.

***
Rani marah besar ketika tahu Jiya menerima Adhie sebagai pacarnya, ternyata ceramahnya selama ini sama sekali tidak dipedulikan.
“ Ji, kan gue udah bilang, jauhin dia..sekarang loe malah jadian sama dia, loe tuch kenapa sich..”
“ tapi ran, Adhie tuch gak seburuk yang loe kira, dia baik dan sayang sama gue.’’ bela Jiya
“ tetep aja, dia itu badboy, tukang ngelanggar peraturan sekolah, apa kata anak-anak nanti kalau mereka tau, Jiya , siswa yang tanpa cela ternyata pacaran sama anak tukang ngelanggar peraturan sekolah. Ji, yang suka sama loe tuch banyak. Si Arki yang ketua osis loe tolak, malah loe jadian sama Adhie yg nggk banget itu..apa loe kerasukan pas waktu nerima dia???” omel Rani
“ ran, Adhie itu baik koq..dan senyumnya itu…mematikan”
“ iya, semua orang juga tahu kalau senyumnya adhie membawa kematian” jawab rani kesal sambil meninggalkn Jiya yang bengong sendiri.
Meski awalnya gak setuju, tapi lama-lama Rani ngerti perasaann Jiya, karena Jiya selalu tersenyum dan terlihat bahagia saat bersama Adhie, hal yang tak pernah ia lihat sebelumya. Dan sekarang Adhie pun mulai merubah kebiasaanya, setidaknya sejak resmi pacaran sama Jiya, Adhie udah gak pernah lagi bikin masalah disekolah dan gak dipanggil guru bp. Adhie juga perlahan membiasakan diri untuk tidak merokok seperti dulu. Apapun ia lakukan untuk Jiya, meski kadang heran dengan sikap Jiya yang aneh dan kekanak-kanakan. Entah apa maksudnya, Jiya memanggilnya “bibu” sejak mereka pacaran, Jiya juga sering bertanya “bibu sayang gak sama Jiya ?” pertanyaan tidak masuk akal yang harus selalu dijawab, atau lebih parah kalau Jiya amenyuruhnya bilang “aaku sayang sama kamu” dan itu harus selau 7x, kalau protes, sama aja cari mati. Tapi meski begitu, hal itu tidak mengurangi sedikitpun rasa sayangnya pada Jiya. Adhie menyayangi Jiya dengan segala keanehan dan misterinya.
Suatu hari, ketika pulang sekolah hujan turun dengan cukup lebat, dan mereka terpaksa diam disekolah sampai hujan reda. Disana Adhie mulai melihat keanehan lain pada Jiya.
“ Ji, kamu kenapa ???” Adhie heran ketika melihat hidung jkiya berdarah.
“kenapa apanya??” Jiya balik bertanya
“ kamu mimisan , kamu gpp kan I ??” Adhie mulai khawatir
Jiya kaget dan gugup,” kenapa mesti mimidan depan adhie sich” fikirnya
Adhie sangat khawatir dengan apa yang baru saja terjadi dengan Jiya. Tapi Jiya menolak diajak ke dokter. Sesampainya dirumah pun Adhie masih memikirkan Jiya. Lama-kelamaan Adhie semakin sering melihat jiya mimisan seperti itu, ia Jadi semakin khawatir. Aoalagi ditas jiya Adhie menemukan berbagai macam obat. Tiap kali ditanya, Jiya selalu bilang kalau itu cuma vit biasa.

Suatu sore, Jiya mengajak Adhie pergi ke suatu tempat, sebuah bukit yanfg indah dengan rumput yang menghijau, dari sana mereka bisa melihat matahari terbenam. Selain foto-foto, Jiya juga merekam keadaan disana,d denua yang mereka lguekan.
“ ngapain pake direkam sich Ji ??” Tanya Adhie
“ buat film documenter cerita cinta kita” jawab Jiya asal
“oh..”
“oh doang ngejawab teh, pelit…!!!” gerutu Jiya
Karena hari mulai delap, mereka pun bergegas pulang, meski sebenarnya berat melangkahkan kaki meninggalkan tempat dan suasana seindah itu.


Sesampainya didepan rumah Jiya, mereka malah tertegun. Jiya sudah turun dari motor, tapi tangannya masih erat menggenggam tangan Adhie, dan enggan melangkahkan kakinya masuk ke rumah.
“ kenapa? Masih kangen yach…??” goda adhie, Jiya tidajk menjawab, tetepi langsung memeluknya dengan erat, lama sekali dan air matanya perlahan mengalir.” Kok malah nangis??” Adhie heran dan melepas pelukannya, lalu dengan lembut ia mengusap air mata Jiya.
“ loe sayang kan sama gue??” Tanya Jiya
“ iya gue sayang banget benget banget…sama loe. Sekarang loe masuk yach, trus tidur, jangan mikir yang macem-macem biar gak mimpi buruk.” Tutur Adhie lembut lalu dikecupnya kening Jiya dengan hangat. Jiya pun akhirnya masuk kedalam rumah. Adhie menunggunya diluar sampai lampu kamar Jiya mati dan baru pulang setelah memeastikan jiya benar-benar tidur.
Keesokan harinya, Jiya dibawa ke rumah sakit. Rupanya kanker hati yang selama ini bersarang ditubuhnya sudah semakin parah dan membuatnya tak sadarkan diri. Adhie yang sama sekali tidak tahu apa-apa tentang penyakit Jiya bingung karena hari itu tidak menemukan Jiya di sekolah.
“ eh Rani, koq tumben kesini, nungguin gue…?? Ran, jiya kemana sich?? Dia gak masuk ??” Tanya adhie pada Rani yang waktu itu sudah menunggu didepan kelasnya.
“ loe ikut gue yach..” ajak rani sambil menarik tangannya. Meski bingung, tapi Adhie menurut saja kemana Rani membawanya. Ia fikir, mungkin Jiya ingin memberinya kejutan dan menyuruh Rani yang menjemputnya. Tapi hatinya mulai risau ketika tahu ternyata Rani membawanya ke rumah sakit. Terlebih lagi ketika mereka sampai didalam, keluarga jiya ternyata sudah disana, tapi..dimana Jiya?? Rani menjawab kebingungannya dengan membawanya ke kamar dimana Jiya terbaring.
“ Jiya…” adhie seolah tidak percaya saat meliat Jiya sedang terbaring di kamar perawatan itu.
“ Jiya selama ini sakit kanker hati, kata dokter, umurnya gak lama lagi. Makanya selama ini keluarganya selalu menjaga Jiya mati-matian, termasuk gue. Makanya dulu gue gak suka waktu loe deketin dia, gue tguet loe bawa pengaruh buruk buat dia. Tapi, Jiya seolah menemukan semangat hidup waktu dia mulai deket sama loe. Jiya gak mau bikin loe khawatir dan sedih, makanya dia nyenbunyiin ini dari loe.” Jelas Rani
Adhie benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya dari Rani, perasaannya tak menentu, kemarin baru saja Jiya pergi menghabiskan waktu bersamanya, dan sekarang, Jiya terbaring lemah seperti ini. Perlahan Adhie menghampirinya, Adhie tak dapat berkata apa-apa, hanya airmatanya yg menetes melukiskan betapa sakitnya ia melihat ?Jiya seperti ini. Jiya koma selama beberapa hari, dan selama itu pula Adhie menunggu disampingnya sampai Jiya sadar, tanpa ia sadari, itulah awal kepedihan yang mendalam.
“ loe gak kangen sama gue ??” ujar Jiya ketika melihat Adhie menangis disampingnya. Adhie langsung memeluknya penuh haru.
“ kenapa loe gak pernah bilang tentang semua ini Ji?? Kenapa loe gak jujur tentang penyakit loe??’’
“ loe sayang kan sama gue??’’
“ iya Ji, gue sayang sama loe, dan gue juga gak akan protes kalau loe nyuruh gue bilang sayang meski 100x, asal loe sembuh.” Jawab Adie sambil menggenggam erat tangan Jiya yang mulai teras dingin. Jiya tersenyum lirih dan air matanya menetes saat mendengar jawaban Adhie.
“ bibu, makasih yach buat semuanya, gue sayang loe. Gue udah cape, gue pengen tidur sekarang.” Perlahan Jiya memejamkan matanya dan tertidur lelep, selamanya. Jiya pergi meninggalkan semua orang yang sangat menyayanginya. Adhie adalah orang yang paling terpukul dengan kepergian Jiya. Sulit baginya untuk menerima kenyataan bahwa malaikat dihidupnyas kini pergi untuk selamanya.
Layout/image by Fangyi with resources from here, here and here.
Ano Hi Mita Hana no Namae wo Bokutachi wa Mada Shiranai © Mari Okada