| about | links | tagboard | ||
|
irasshai!
Welcome Welcome! (Disclaimer here) |
||||
|
BALADA TANAH MERAH
✿ Sabtu, Agustus 06, 2011 Kenapa tanah disini merah? Begitu aku bertanya ketika kami tiba dari Rusia.. Ayah tersenyum penuh rahasia Inilah salju Jakarta Tanah disini Banyak mengandung besi Berarti kuat dong, aku tertegun Iya nak, kuat untuk dibangun Lihatlah sekelilingmu Dimana-mana generasi muda dan tua Membawa map dan buku guna menuntut ilmu Untuk membangun bersama Indonesia, repulik yang masih muda tak peduli apakah pemuda rakyat atau hmi yang penting kita bersama berdiri diatas tanah merah ini. Bahkan banyak yang rela untuk pergi Ke luarnegeri, demi belajar serta Rasa hormat dunia untuk pertiwi Anakku, jangan kau lupa Tanah airmu itu kaya Harta karun tak terhingga Terkandung di dalam perutnya Dan hanya dengan ilmu Kami simpan untuk generasimu Demikian aku mulai hidup Di atas tanah merah jakarta Mencari diri dan membentuk Seperti pemuda dimana-mana Menempa besi menjadi baja. Tetapi aku masih terlalu kecil Ketika tiba-tiba terjadi Peristiwa yang aku belum mengerti Di suatu hari yang cerah masih nampak biru Warna langit pagi Tanah menjadi lebih merah Karena terkuak gerigi Roda tank- tank yang menderu Dan tanpa disangka Kampungku Gang Rambutan Di pinggir jalan pasar Minggu Masuk kedalam neraka Kakiku masih melangkah Tak sadar ke arah sekolah.. Tetapi di kiri kanan jalanan Oh Tuhan.. Kenapa ini boleh terjadi Seperti mimpi yang ngeri.. Mengapa Engkau pergi Meninggalkan tempat ini? Sementara itu terlihat Dari segala penjuru Bergerombol banyak pemuda Berbaju pencak silat Dengan menabuh gendang Dan berteriak Allahu Akbar! Seketika itu suasana keruh Rumah penduduk setempat diserbu Gendang masih terdengar ditabuh Kali ini tercampur teriakan pilu! Wanita dan pria diseret keluar Ditendang,digebuk,rambut terurai dicambuk Rumah-rumah sudah siap dibakar Sambil berteriak Allahu Akbar..! Aku seperti terpaku berdiri Tak tahu harus terus atau kembali Tiba tiba seorang ibu berlari padaku Tiarap! Tiarap neng, jangan tegak begitu! Ia tutupi aku dengan selendang Selendang yang panjang dan agak usang.. Tak tahu berapa lama kami bongkok sembunyi Aku sempat melihat satuan PM datang Mencoba mengembalikan ketertiban Dari jauh terdengar tangisan bayi Mungkin tanpa ibu, ditinggal sendiri.. Suasana jadi sangat sunyi Dari jauh terdengar azan menyanyi Seakan tak ada suatu terjadi Begitu damai membelai di hati Aku beranikan diri keluar dan lari Lari dan lari tanpa nengok ke belakang Kanan kiri sepanjang jalan Nampak hanya reruntuhan Didepan rumah orang-orang berkerumun Hatiku terasa pilu bergetar Dari mereka aku mendengar Penggerebekan di sekitar kampung Masih terus berlangsung Penangkapan mulai terjadi Aku nangis didada ibu Pucat dengan rambut kusut Airmata panas mengalir menyengat pipi Mengapa Malam Kristal terjadi disini? Rumah kami pula hancur Buku campur alat dapur Porakporanda dihalaman Kapuk putih bagaikan salju Bertebangan dari kuakan kasur Orang tuaku hari itu dijemput Bisu, gelapnya malam bagai selimut Berhenti dua truk,seperti bayangan Sosok-sosok bertopi baja mengepung halaman Ibunda masih sempat berbisik mesra Kuatlah anakku Dinusjka Ini hanya sementara Pasti kami pergi tak lama Kita tak salah, kebenaran ada dipihak kita! Tersedu susah melepas pelukan Aku dan kakak ditinggal ditengah malam Didepan rumah yang sudah hancur Dengan hanya berbekal: harapan Satu hal lagi pesan ibu Jangan mudah membuka pintu Kalau ada kenalan kami datang Lebih baik kalian diam Kini berkuasa jaman edan Teman sendiri menjadi lawan Dan diluar betul kata ibu Suasana semakin tidak tentu Tank-tank berdiri ditiap sudut jalan Patroli PM kontrol terus jam malam Di siang hari tank-tank menderu berang Truk-truk penuh tentara bertopi baja Senapan-senapan terhunus mengancam Sambil bergelak ketawa seram Menembak keatas, anjing dan ayam Seolah-olah ini tanah Masih kurang berwarna merah Sehingga perlu ditambah dengan Lebih banyak tumpahan darah Tak terasa empat bulan berlalu Kami tetap di rumah mencoba survive Dan tetap menunggu Mengharap saat kembalinya ayah ibu Tetangga banyak membantu Kami ditampung beberapa waktu Tukang sayur selalu datang Dengan gratis memberi sayuran Dan aku selalu menyesal Aduh Bang belum ada uang.. Ngga apa Neng, gampang, bayar kapan-kapan.. Tetapi pada suatu hari Pintu degedor bertubi-tubi Rumah ini telah disita, kamu harus keluar segera! Jangan coba membawa barang suatu apa, Ini semua telah milik negara! Begitu cetus ia menghardik Seorang kapten bernama Basuki Terasa matanya ciut membidik Badanku yang belum mulai puber Ia komando pada mereka Yang bersesak penuh dalam truk tentara Semua pemuda berbaju hitam Ini masih kecil kok, nggak perlu dihantam! Awasi saja jangan mereka bawa barang dan jaga ketat pintu belakang! Dan kalian, anak-anak orang PKI Jangan kira terlepas dari kami Komunisme, seperti syphilis Sampai tujuh turunan harus dibasmi! Aku terduduk lemas, harus kemanakah kami? Sedangkan sanak famili dengan panik lari Menjauh, tak berani, meskipun aku bisa mengerti Tiba-tiba kami jadi paria, anak-anak penjahat Jari telunjuk menunjuk, menusuk Jauhi mereka, jangan dekat Mereka telah dikutuk Tuhan! Gara-gara ikut Komunis, ilmu setan! Jaman memang berubah, tidak seperti dulu Moral berjungkir balik dalam sekejap mata Apa yang dulu baik, kini menjadi tercela Mode ‘orang kaya baru’ merajalela Muncul di mana-mana tante bergaya girang Bibir bergincu merah dan berbadan sintal Memakai celana jengki, rambut disasak tinggi Jalan melenggang dengan bedinde belanja di pasar pagi Om-om senang menyelusur jalanan dengan jip kantor pada waktu kantor, ini memang moral koruptor Matanya buas mencari mangsa Gadis-gadis yang belum dewasa Isteri tentara,kopral dan sersan Mendadak kaya,bergaya nyonya besar Isteri jendral dan overste berlomba-lomba Membeli titel aristokrat berdarah biru, seakan malu, Kalau merah berarti merakyat Tanah merah aku tetap teringat Tanah Jakarta yang semakin padat Makin sedikit buatnya untuk merasa bebas Semakin sedikit ia bisa bernafas Sampai kini kubertanya setiap hari Mengapa tanah merah yang aku ingat Tidak buat manusia menjadi kuat? Kuat untuk terus semangat, mencari jatidiri Dan tidak saling membenci dan khianat? |
||||
|
❖Layout/image by Fangyi with resources from here, here and here. Ano Hi Mita Hana no Namae wo Bokutachi wa Mada Shiranai © Mari Okada |
||||